Sabtu, 24 April 2010

Sejarah kota gede

Sabtu, 24 April 2010

Sebelumnya, tempat ini hanyalah hutan yang disebut Alas Mentaok, yang diberikan kepada Panembahan Senopati oleh Sultan Pajang karena Senopati telah membantu menyelamatkan Pajang. Pada tahun 1575, Panembahan Senopati, yang menjadi raja Mataram Islam yang pertama, membangun kawasan ini dan menetapkannya sebagai kota ibukota.
Kotagede menjadi ibukota hingga tahun 1640. Setelah itu raja ketiga Mataram Islam, Sultan Agung memindahkan ibukota ke Desa Kerto, Plered-Bantul. Ibukota baru ini terletak sekitar 6 km di sebelah barat Kotagede.
Menurut ceritanya, pemindahan ini dengan alasan untuk mendapatkan kekuatan dan kejayaan yang lebih besar secara mistis. Sekarang tinggal sedikit saja barang peninggalan dan bangunan penting Mataram Islam yang masih tersisa di kota tua ini. Beberapa di antaranya adalah makam kerabat Pangeran Senopati, dinding dan fondasi salah satu pendapa (ruang depan kerajaan), dan Sendang Selirang – sebuah kolam tempat mandi keluarga kerajaan. Ketiga peninggalan sejarah ini terletak di dalam suatu halaman tertutup, bersama dengan masjid kraton Kotagede, di sekitar 200 m ke arah selatan pasar tradisional Kotagede.
Pemakaman dibuka untuk umum setiap Senin dan Kamis dari pukul 10.00 sampai 12.00 dan Jumat pada pukul 13.00 – 15.00. Para pengunjung harus mengenakan pakaian tradisional Jawa: batik. Pakaian ini disewakan di lokasi tersebut.
Di antara barang peninggalan sejarah tersebut, kita masih bisa menemukan bangunan-banguinan lainnya yang lebih memperkuat daya tarik kota ibukota lama ini. Di antaranya adalah rumah milik rakyat Kalang. Mereka diduga merupakan penduduk asli Kotagede dan terkenal sebagai seniman. Mereka membuat ukiran kayu dan emas. Mereka berasal dari wilayah kerajaan Majapahit Hindu di Jawa Timur dan Bali, yang diminta negara Mataram Islam untuk memenuhi kebutuhan akan seni.
Setelah ditinggal Sultan Agung pada tahun 1700-an, Kalang menjadi kaya raya karena pekerjaan mereka ini, Mereka membangun rumah mewah dengan arsitektur Hindu Jawa. Pada masa berikutnya, sekitar tahun 1800 hingga 1900-an, muncullah Joglo Jawa (arsitektur tradisional Jawa), dengan musholla, dan ornamen-ornamen Arab. Sebuah perubahan penting terjadi selama tahun 1920-1930-an, ketika Kalang yang dimonopoli oleh Belanda (Pemerintah Kolonial) menangani pegadaian dan perdagangan berlian dan opium. Pada masa ini, Kalang membangun rumah-rumah mewah dengan arsitektur Barok Eropa. Rumah keluarga Pawiro Sentiko di Jalan Kemasan merupakan salah satu bangunan yang bisa kita temukan di sini. Pawiro Sentiko adalah pengusaha sukses pada saat itu yang memiliki 13 pegadaian di Jogja.
Rumah-rumah rakyat jelata di Kotagede diatur di kampung khas yang disebut “Kampung Alun-Alun”. Rumah-rumah ini dibangun berdesakan di jalanan yang sempit, bagaikan lorong, karena atap dan bangunan-bangunan di depannya saling tumpang tindih. Di kampung ini kita bisa melihat para pengukir yang bekerja membuat kerajinan perak Kotagede yang indah dan terkenal (www.yogyes.com)



Related Posts











0 comments:

Posting Komentar